Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah puteri ke-4 dari anak-anak Rasulullah, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Sesungguhnya Allah telah menghendaki kelahiran Fatimah yang mendekati tahun ke-5 sebelum Muhammad diangkat sebagai Rasul diiringi dengan peristiwa yang sangat besar, yang menjadikan kaum Quraisy ridha terhadap Muhammad. Yakni sebagai pemutus perselisihan sengit yang terjadi di kalangan mereka.

Berkaitan dengan peletakkan batu hitam (Hajar Aswad) setelah bangunan Ka’bah diperbaharui. Dengan kecerdasan akal beliau Shalallahu ‘alaihi wassalaam perselisihan itu mampu diselesaikan dan pedang-pedang pun disarungkan kembali setelah sebelumnya dihunus untuk berperang diantara kabilah-kabilah.

Lahirnya Serikandi Ummu Abiha

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam merasa gembira dengan kelahiran Fathimah dan nampaklah tanda berkah dan kebaikan pada dirinya. Beliau memberi nama Fathimah dan memberi julukan Az-Zahra. Sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (ibu bagi bapaknya).

Ia puteri yang paling mirip dengan ayahnya. Fathimah tumbuh di bawah asuhan ayahnya yang penyayang. Rasulullah selalu memperhatikan pendidikan Fathimah agar ia bisa mengambil pelajaran yang banyak dari beliau berupa adab, kasih sayang dan bimbingan yang lurus.

Seperti yang telah didapat oleh ibunya, Khadijah, berupa sifat-sifat yang suci dan perangai yang terpuji. Dengan dasar itu Fathimah tumbuh di atas kesucian yang sempurna, kemuliaan jiwa, cinta kepada kebaikan dan berakhlak baik. Ia mampu mengambil keteladanan yang tinggi dari ayahnya dalam segala perbuatan dan tingkah laku.

Matang di Saat Masih Kecil

Saat mencapai usia 5 tahun, Fathimah Az-Zahra melihat perubahan yang sangat besardalam kehidupan ayahnya disebabkan wahyu mulai turun kepada beliau. Ia merasakan mulai munculnya permasalahan pada dakwah yang diemban ayahnya. Ia pun menyaksikan ibunya selalu berada di samping ayahnya ikut serta berbagai peristiwa besar yang dihadapi ayahnya.

Fathimah menyaksikan berbagai tipu daya dilakukan orang-orang kafir terhadap ayahnya. Ia berharap seandainya dirinya mampu menggantikan apa yang dihadapi ayahnya dengan kehidupannya dan mencegah kaum musyirikin kepada bapaknya. Tetapi bagaimana ia mampu melakukan hal itu sedangkan dirinya masih kecil!

Di antara penderitaan yang amat berat di awal dakwah adalah pemboikotan yang dilakukan terhadap kaum muslimin. Kaum muslimin diboikot bersama Bani Hasyim di lembah Abu Thalib yang mengakibatkan kelaparan dan hal ini mempengaruhi kesehatan Fathimah.

Namun dalam kondisi yang lemah, selama hidupnya ia tetap membantu ayahnya. Ketika Fathimah yang masih kecil ini berhasil melewati ujian pemboikotan yang keras itu, ia dikejutakan denganujian baru berupa kematian ibunya, Khadijah. Ia pun sangat sedih dengan kematian ibunya.

Setelah ibunya wafat, Fathimah memiliki peran dan tanggung jawab yang besar di depan ayahnya sebagai seorang Nabi yang mulia yang semakinbanyak rintangan dakwah khususnya setelah kematian pamannya yaitu Abu Thalib dan istrinya yang selalu menepati janji.

Penderitaan yang berlipat-lipat dan berbagai peristiwa itu dihadapi Fathimah dengan sabar karena mencari pahala di sisi Allah. Ia menempatkan dirinya di samping ayahnya untuk memberikan baktit sebagai pengganti ibunya. Karena itu, ia dibri kunyah Ummu Abiha (Ibu bagi bapaknya).

Pembantu Setia di Kala Kesusahan

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam mengizinkan para shahabatnya berhijrah ke Madinah, peristiwa itu membutuhkan peran yang sangat besar dari Ali bin Abi Thalib karena memiliki resiko yang tinggi. Dimana Ali bin Abi Thalib diminta menggantikan posisi Rasulullah.

Ali pun tidur di pembaringan Rasulullah untuk mengelabuhui para pemuda Quraisy. Kemudian secara diam-diam selama 3 hari di Mekkah dia berupaya menyampaikan amanat Nabi yang telah berhijrah yaitu memberikan barang-barang titipan untuk orang-orang yang berhak menerimanya.

Fathimah dan Ummu Kultsum tetap berada di Mekkah sampai Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam mengutus seorang shahabat untuk menjemput keduanya. Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-13 sejak beliau diutus dan saat itu Fathimah telah berusia 12 tahun. Di Madinah ia menyaksikan orang-orang Muhajirin telah memiliki perasaan yang aman dan rasa ngeri karena keterasingan telah lenyap dari diri-diri mereka. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam telah mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan beliau menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai saudara.

Saat Penyuntingan Fathimah az-Zahraa

Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam menikahi Sayyidah Aisyah, maka para tokoh-tokoh shahabat berupaya meminang Fathimah Az-Zahra setelah sebelumnya mereka menahan untuk melakukan hal itu karena ia masih bersama ayahnya dan disibukkan dengan berbagai urusan ayahnya.

Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang, tetapi Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam menolakdengan lemah lembut yang tinggi. Lalu Ali bin Abi Thalib datang kepada Rasulullah untuk melamar Fathimah. Ali berkata (menceritakan peristiwa tersebut):

”Saya ingin bertemu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam untuk melamar Fathimah. Saya berkata: Demi Allah, saya tidak mamiliki harta apapun. Namun kemudian saya ingat akan kedermawanan dan kebaikan Rasulullah. Maka saya pun melamar Fathimah kepada beliau. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam berkata kepadaku: ”Apakah di sisimu ada sesuatu?”

”Tidak ada, ya Rasulullah, ”jawabku.

”Di mana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu? ”tanya Beliau.

”Masih ada padaku wahai Rasulullah, ”jawabku.

”Berikan itu kepadanya, ”kata Beliau.

Lalu Ali bergegas pergi dan kembali lagi dengan membawa pakaian perang yang dimaksud. Nabi memerintahkannnya untuk menjual pakaian perang tersebut agar wangnya bisa digunakan untuk biaya perkawinan. Utsman bin Affan membeli pakaian perang tersebut dengan harga 470 dirham. Lalu Ali menyerahkan wang tersebut kepada Rasulullah. Beliau memberikan wang itu kepada Bilal supaya memakai sebagian untuk membeli parfum. Sisanya Beliau berikan kepada Ummu Salamah supaya ia membelikan perlengkapan pengantin.

Kemudian Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam mengundang para shahabatnya. Rasulullah menjadikan mereka sebagai saksi bahwa sesungguhnya beliau menikahkan Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib dengan mahar 400 mistqal perak sebagai pelaksanaan sunnah (ajaran Nabi) yang tetap dan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Saat Pernikahan Ali karamallahu wajhah dan Fathimah az-Zahraa 

Sekadar hiasan

Beliau menutup khutbah pernikahan dengan memintakan berkah bagi kedua mempelai dan memintakan keturunan yang baik untuk keduanya. Kemudian beliau menyuguhkan bejana yang berisi korma kepada para shahabat.

Pada malam pengantin saat Fathimah Az-Zahra akan menemui pahlawan Islam yakni Ali bin Abi Thallib, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam memerintahkan Ummu salamah agar mengantar pengantin puteri kepada Ali di tempat yang telah di persiapkan untuk tinggal keduanya. Beliau menghendaki agar mereka berdua nantinya menetap di sana.

Setelah shalat Isya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam pergi menemui keduanya. Kemudian beliau meminta air, berwudhu darinya, kemudian beliau mengucurkan air wudhu tersebut kepada keduanya dan beliau berdo’a:

”Ya Allah Ya Tuhan kami, berkahilah keduanya dan curahkanlah berkah atas keduanya, serta berkahilah keturunan keduanya.”

Sekadar hiasan

Kesederhanaan Kehidupan Fathimah di sisi Suaminya yang Tercinta

Kaum muslimin merasa gembira atas pernikahan Fathimah Az-Zahra dengan Al-Imam Ali. Datanglah Hamzah, paman (bapa saudara) Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalaam dan juga paman Ali dengan membawa 2 ekor kambing kibas, lalu menyembelihnya, kemudian dia menjamu orang-orang Madinah.

Setelah 1 tahun pernikahan mereka berlalu, Fathimah melahirkan cucu lelaki untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam pada tahun ke-3 Hijriyah. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam sangat gembira dengan kelahiran Al-Hasan. Beliau mengumandangkan adzan pada telinganya, mentahniknya dan menamakannya Hasan. Beliau pula yang membersihkan kotoran dari kepala Hasan (mencukur rambut) dan bershadaqah untuk para fakir miskin dengan perak seberat rambutnya. Saat umur Hasan genap 1 tahun lahirlah Husain pada bulan Sya’ban tahun ke-4 Hijriyah.

Hati Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam amat suka cita atas keberadaan 2 cucunya yang mulia. Beliau (bisa) melihat ada suatu keistimewaan pada keduanya karena kehidupan beliau yang khusus di atas bumi ini. Beliau melimpahi keduanya dengan kecintaan dan kasih sayang yang besar. Tatkala ayat yang mulia diturunkan:

”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam (saat itu) berada di sisi Ummu Salamah. Lalu beliau memanggail Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, kemudian beliau menutupi mereka dengan kain dan berdo’a:

”Ya Tuhan kami, mereka adalah keluargaku (ahlul baitku), maka hilangkanlah kotoran (dosa) dari mereka, dan sucikanlah mereka dengan kesucian yang benar.”

Beliau mengucapkannya 3 kali, kemudian berdo’a:

”Ya Allah Ya Tuhan kami, jadikanlah shalawat Engkau dan berkah Engkau kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau menjadikannya kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Buah dari do’a yang penuh berkah itu menghasilkan keberkahan yang beruntun. Pada tahun ke-5 Hijriyah Fathimah Az-Zahra melahirkan anak perempuan dan kakeknya (Nabi) menamakannya Zainab. Setelah 2 tahun dari kelahiran Zainab, ia melahirkan anak perempuan lagi dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam memberi nama untuknya dengan nama Ummu Kultsum.

Sekadar hiasan

Dengan demikian Allah telah melimpahkan nikmat yang sangat besar kepada Fathimah. Allah telah membatasi keturunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam pada anaknya dan dengan itu Dia telah menjaga keturunan yang mulia yang diketahui oleh manusia. Sesungguhnya kecintaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam kepada Fathimah memiliki tempat tersendiri. Ketika beliau datang dari safar (misalnya), beliau masuk masuk masjid lalu shalat 2 rakaat kemudian mendatangi Fathimah lebih dulu baru mendatangi para istrinya.

Aisyah Ummul Mukminin berkata: ”Saya tidak melihat seseorang yang perkataan dan pembicaraannya paling menyerupai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam selain Fathimah. Jika Fathimah masuk menemui Rasulullah maka beliau berdiri menuju kepadanya, menciumnya dan menyambutnya. Seperti itu juga Fathimah berbuat terhadap beliau.”

Kemuliaan Fatimah az-Zahraa

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam telah mengungkapkan rasa cinta kepad puterinya ini tatkala beliau berkata di atas mimbar:

”Sesungguhnya Fathimah bagian dari saya, barang siapa yang membuatnya marah, maka dia telah membuatku marah.”

Dalam riwayat lain:

”Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari saya, mendustakan saya apa-apa yang mendustakannya dan menyakiti saya apa-apa yang menyakitkannya.”

Selain beliau memiliki kecintaan yang sangat besar, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam juga menjelaskan kepada Fathimah dan yang lainnya bahwa setiap orang harus memiliki amal dan perbekalan taqwa. Pada suatu hari beliau berdiri lalu berkata:

”Wahai kaum Qurasiy, belilah diri-diri kalian, karena saya tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun dari Allah untuk kalian. Wahai…wahai…wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah kepada saya apa yang engkau inginkan dari harta saya. Sesungguhnya saya tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun dari Allah untuk kalian.”

Dalam satu riwayat:

”Wahai Fathimah binti Muhamad, selamatkan dirimu dari api neraka, sesungguhnya aku tidak mampu (menolak) bahaya dan (memberi) manfaatdari Allah untuk engkau…”

Diririwayakan dari Tsauban, dia berkata:

”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam masuk menemui Fathimah dan saya bersama beliau. Fathimah memegangi lingkaran kalung pada lehernya, kemudian ia berkata: ”Abdul Hasan (Ali bin Abi thalib) telah mnghadiahkan ini kepadaku.” Maka beliau berkata: ”Wahai Fathimah, apakah engkau senang kalau manusia berkata kepada engkau: Fathimah binti Muhammad di tangannya ada lingkaran api?”

Beliau mencerca dan mencela puterinya dengan celaan yang sangat keras, kemudian keluar dan tidak duduk. Maka Fathimah melepas kalung itu lalu menjualnya dan uangnya dipakai untuk membeli budak lalu ia memerdekakannya. Ketika sikapnya itu terdengar oleh Rasulullah, maka beliau berkata:

”Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menyelamatkan Fathimah dari api neraka.”

Inilah kedudukan yang telah dicapai Fathimah di sisi Rasulullah. (Meski demikian) hal itu tidak menghalangi beliau untuk mencerca dan mencelanya. Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam memperingatkannya bahwa sesungguhnya beliau tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun terhadapnya dari (adzab) Allah.

Rasulullah mengancam jika ia mencuri, maka beliau akan menegakkan hukuman kepadanya dan memotong tangannya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadist wanita Al- Makhzumiyah yang telah mencuri dan kaumnya meminta pertolongan untuknya melalui kesayangan beliau yaitu Usamah bin Zaid bin Haritsah.

Disebutkan dalam hadist:

”Demi Allah, kalau Fathiamah puteri Muhammad mencuri, tentu saya memotong tangannya.”

Bahkan lebih dari itu, sesungguhnya bagian dari cinta Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam adalah beliau bersikap keras terhadap Fathimah. Sampai beliau lebih mengutamakan para fakir miskin dalam keadaan ia mengalami kehidupan yang sempit dan keras.

Nasihat Berguna buat Puterinya

Ali berkata kepada Fathimah:

”Sesungguhnya engkau telah merasakan kesulitan dan kerepotan (dalam mengurusi rumah tangga) wahai Fathimah, sehingga aku engelus dadaku (karena merasa kasihan). Sesungguhnya Allah telah mendatangkan tawanan, maka pergilah engkau (kepada ayahmu) dan mintalah seorang wanita yang akan menjadi pelayan bagimu.”

Fathimah berkata: ”Akan saya lakukan insya Allah.” kemudian ia mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalaam . Tatkala melihatnya, Rasulullah merasa gembira dan bertanya: ”Apa yang engkau inginkan wahai puteriku?” Fathimah berkata: ”Saya datang untuk memberikan salam kepada ayah.”

Inilah pakaian puteri seorang pemerintah juga pahlawan di medan pertempuran dan juga puteri kepada Rasulullah, Fatimah az-Zahraa. Masha-Allah, Indahnya peribadi Ahlul Bait.

Ia merasa malu untuk mengutarakan permintaannya dan ia pun kembali. Namun Fathimah datang lagi dengan ditemani suaminya. Ali menyebutkan tentang keadaan Fathimah kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam berkata kepadanya:

Tidak. Demi Allah saya tidak akan memberi kepada kalian berdua (dalam keadaan) saya tinggalkan Ahlus Suffah (orang-orang miskin yang tinggal di sekitar masjid Nabi) dalam keadaan perut-perut mereka melilit. Saya tidal mendapati sesuatu yang bisa saya infakkan untuk mereka.”

Keduanya pun kembali ke rumahnya. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalaam mendatangi rumah Ali dan Fathimah, sedangkan mereka berdua dalam keadaan memakai selimut. Jika keduanya menutupkan (selimut tersebut) ke kepala maka telapak kaki mereka tampak, jika keduanya menutupi telapak kaki, maka kepala keduanya terbuka. Keadaan ini menggugah (perasaan) Nabi j.

Beliau berkata: ”Tetaplah kalian di tempat kalian (dan tidak usah berdiri untuk menyambutku)! Maukah kalian kuberitahu tentang suatu amalan yang lebih baik daripada yang kalian minta?”

”Mau, wahai Rasulullah, ”jawab mereka berdua.

Beliau berkata: ”Yaitu beberapa kalimat yang diajarkan Jibril kepadaku, bacalah ssetelah shalat tasbih 10 kali, tahmid 10 kali, dan takbir 10 kali. Kemudian jika kallian berdua hendak tidur, bacalah tasbih sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir sebanyak 33 kali. Hal itu lebih baik bagi kalian berdua dari seluruh pelayan.”

Ali berkata: ”Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan bacaan tersebut sejak beliau mengajarkannya kepadaku.”

Dipetik dari blog Ummi Munaliza.

Masha-Allah, sebak hati ini membaca kisah puteri Rasulullah yang sarat dengan pengajaran dan tauladan. Insha-Allah, sama-sama kita ambil apa yang boleh dijadikan iktibar daripada kisah di atas dan jadikan sebagai amalan seharian kita.

Wallahu’alam.

Advertisements

Read Full Post »

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Nampaknya agak lama aku tidak meng’update’ blog aku ni ya. Sekarang sudah masuk 19 Jun bersamaan 17 Rejab 1432 Hijriah. (Sedang mempraktik nak ingat bulan-bulan hijriah. Tahun hijriah sekarang ni pun agak senang nak ingat sebab angkanya berbeza dan mengikut turutan; {1-4-3-2-} Tengok, semua nombor ada. Kan senang nak ingat tu. Ikut turutan pula tu, 1, 2, 3, 4.)

Baik, berbalik kepada tujuan sebenar entry ini. Sebenarnya akhir-akhir ni solatku tak berapa khusyuk. Aku tak pasti samada pengaruh luar solat ka, persekitaran yang mengganggu ka, fikiran yang kotor ka (dirty thoughts), ataupun apa-apa sahaja yang mampu mengganggu khusyuk solatku ini. I wonder what it is?

Seusai ku solat di masjid aku sering memerhati sekeliling masjid. Aku pun perhati la dekat dinding masjid bahagian atas. Rata-rata masjid ada sedikit ayat-ayat al-Quran dengan tulisan khat yang cantik. Aku percaya potongan ayat-ayat al-Quran ini bukan hanya untuk perhiasan semata-mata, bahkan sebagai ayat peringatan buat tetamu-tetamu Allah yang beribadat dalm masjid ini. Ayat yang selalu tertera di dinding ni contohnya:

“Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, Iaitu mereka yang khusyuk dalam solatnya, Dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia.”

( 23 : 1-3 )

Terkesan hati aku baca ayat ni. Mesti lah, aku solat selalu pun bukannya khusyuk sangat. Maklumlah amalan aku setiap hari bukanlah amalan apa-apa pun. Sama la seperti insan-insan kerdil yang lain, tunaikan solat 5 waktu, solat-solat sunat rawatib (ada juga yang tertinggal), puasa dua hari seminggu dan macam-macam lagi (bukan niat nak menunjuk, harap maklum. Ini bagiku amalan yang biasa-biasa sahaja.) Lalu, aku pun terfikir bagaimana nak menambahkan lagi khusyuk dalam solat ni. Aku sentiasa perbaiki tentang amalan-amalanku setiap hari. Kenapa solatku ni tidak mencegah pun dari melakukan perkara mungkar?

Aku pun dalam proses mencari alternative untuk mencari khusyuk dalam solat. Hmm, bagaimana ya? Aku mengambil jalan untuk menambah baikkan cara mengambil wudhukku. Bagi aku ini adalah salah satu daripada beberapa jalan untuk memperbaiki khusyuk dalam solat, Insha-Allah. Jadi di sini aku ingin kongsikan ilmu tentang doa-doa tambahan ketika mengambil wudhuk, sama-samalah kita amalkan.

Dimulakan wudhuk dengan membaca:

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ya Allah, aku minta berlindung kepada Engkau daripada gangguan syaitan, dan aku minta berlindung kepada Engkau, wahai Tuhanku, daripada mereka yang dating kepadaku.”

Ketika membasuh dua tangan hendaklah membaca doa:

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta daripada Engkau kesempurnaan dan keberkatan dan aku meminta perlindungan kepada Engkau daripada kecelakaan dan kebinasaan.”

Ketika berkumur-kumur hendaklah dibaca doa:

Ya Allah, tolonglah aku untuk membaca kitab Engkau, banyak berzikir kepada Engkau dan tetapkan aku dengan kata-kata yang tetap di dunia dan di akhirat.”

Ketika memasukkan air ke hidung hendaklah dibaca doa:

Ya Allah, berikanlah kepadaku bau-bauan syurga dan Engkau redha kepadaku.”

Dan ketika mengeluarkan air dari hidung hendaklah dibaca doa:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bauan neraka dan siskaan neraka.”

Ketika membasuh muka selain dari niat wudhuk bacalah doa:

Ya Allah, cahayakanlah mukaku dengan cahaya Engkau pada hari bercahayanya muka wali-wali Engkau, dan janganlah Engkau menggelapkan mukaku dengan kegelapan Engkau pada hari menjadi hitam muka musuh-musuh Engkau.”

Ketika membasuh tangan dan siku kanan hendaklah dibaca:

Ya Allah, serahkanlah rekod amalanku melalui tangan kananku dan perhitungkanlah aku dengan mudah.”

Dan bagi tangan kiri hendaklah di baca doa:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau daripada Engkau serahkan buku rekodku melalui tangan kiriku atau dari belakangku.”

Ketika menyapu kepala hendaklah dibaca doa:

Ya Allah litupilah aku dengan rahmat Engkau, turunkan keberkatan Engkau kepada aku, lindungilah aku di bawah bayang Arash Engkau pada hari yang tidak ada sebarang perlindungan kecuali lindungan bayangan Engkau, Ya Allah, peliharalah rambutku dan kulitku daripada api neraka.”

Ketika menyapu dua telinga hendaklah membaca doa:

Ya Allah jadikanlah aku daripada kalngan orang yang mendengar perkataan maka mengikut yang baiknya, Ya Allah perdengarkanlah aku malaikat yang menyeru ke syurga, di syurga bersama-sama orang  yang baik-baik.”

Ketika membasuh kaki kanan hendaklah membaca doa:

“Ya Allah, tetapkanlah kakiku di atas titian Sirat al-Mustaqim bersama tetapnya kaki-kaki hamba-Mu yang soleh.”

Dan ketika membasuh  kaki kiri hendaklah membaca doa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku minta berlindung kepada Engkau daripada tergelincirnya kakiku di atas titian ke dalam neraka pada hari tergelincirnya kaki-kaki orang munafiq.”

Apabila selesai mengambil wudhuk, diakhiri dengan bacaan doa yang lazim kita baca:

“Aku naik saksi tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, Tuhan yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan aku naik saksi bahawasanya Nabi Muhammad itu hamba dan pesuruh-Nya. Ya Allah jadikanlah daku daripada golongan yang bertaubat, jadikanlah daku daripada golongan yang bersih, jadikanlah daku daripada golongan hamba Engkau yang soleh.”

Nasihat buat diriku dan juga para pembaca sekalian semoga doa ini dapat meningkatkan amalan seharian kita malah menambahkan khusyuk dalam solat kita tidak kira samada fardhu atau sunat.

Wallahu’alam

Read Full Post »

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sebelum aku memulakan kalam ini, ingin aku menasihati diriku dan juga para pembaca sekalian. Kesakitan yang kita alami memang tidak terperi, tidak kiralah sakit dari segi jasmani, fizikal, mental atau rohani. Aku tahu, saban hari aku juga pernah mengalami sakit jiwa atau bahasa pasarnya ‘sakit hati’ kalau komen-komen di Facebook yang kadang-kadang mengeluarkan kata-kata yang berbaurkan individu,bangsa, dan paling sakit hati komen-komen atau status yang melibatkan agama.

Aku akur kesakitan tu kadangkala tidak dapat diubati, bukan tidak diubati, cuma kita tidak tahu apakah penawarnya. Sebenarnya semua sakit itu ada ubatnya, tetapi itu semua atas dasar usaha kita samada kita nak cari penawar itu atau buat sendiri, terpulanglah kepada individu itu. Tetapi apa yang pasti, penyakit yang memang pasti tiada ubatnya, ialah MATI. Sepertimana Baginda yang dikasihiNya telah bersabda:

Ya, wahai hamba Allah, berubatlah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ia telah menetapkan baginya penawar kecuali satu.

Mereka bertanya, “apakah yang satu itu?”, Baginda menyatakan:

iaitu tua.”

(Hadith Riwayat Tarmizi)

Ya, Rasulullah s.a.w. sendiri telah menyatakan setiap penyakit itu ada penawarnya kecuali tua, tua itu kan dekat dengan mati.

Hampir setiap malam di rumah, aku sering menyapu ‘ointment‘ (sejenis ubat sapu) dekat siku nenekku. Malam-malam sebelumnya siku membengkak tetapi kelihatan tidaklah serius. Namun, dalam beberapa hari ni aku tersedar bengkaknya semakin merah dan membesar. Paling tidak dijangkakan, malam berikut, sikunya bengkak kemerahan sehingga bernanah! Masya-Allah, apa harus aku lakukan ni!? Manakan tidak, nanahnya itu pecah dan meleleh keluar. Ya Allah, sakitnya! Lagipun bukannya aku yang mengalami kesakitan itu. Pelik, macam lah aku boleh rasa apa yang nenekku rasa.

Lalu, aku pun tanya lah nenekku, “Tok, sakit dak tangan ni, bernanah sampai meleleh ni, sebelum ni tak macam ni pon.”

“Haa, sakit. Tapi tak apalah, sikit ja ni.” Balas nenekku sambil dahinya berkerut menahan sakit.

Aduh, Aku amati wajahnya pun dah boleh baca dia tengah menahan sakit. Aku pernah la juga sakit bernanah ni masa dulu. Ya Allah, seteruk-teruk sakit yang kau timpakan di dunia ni, lebih teruk azabMu di akhirat kelak. Moga-moga aku dijauhkan azabMu, Ya Allah. Sedang ku merenung nanah nenekku itu, teringat pula aku tentang sepotong ayat al-Quran menceritakan azab Allah di akhrat nanti kepada golongan yang ingkar akan perintahNya.

Dan tiada makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.”

( 69:36 )

Aku tak dapat lagi menerangkan bagaimana keadaan orang-orang yang berdosa di akhirat nanti. Nanah keluar dari kulit sendiri pun dah sakit, lagikan terpaksa minum darah dan nanah manusia-manusia yang ingkar kepadaNya nanti. Na’uzubillahi minzaalik.

Aku pun merenung wajah nenekku yang sudah pun lewat usianya. Mungkin usianya yang tua ini lah yang dikatakan oleh Baginda yang tiada ubatnya. Mungkin yang Baginda maksudkan tu usia tua tiada ubatnya nak balik menjadi muda semula. Sebab tu ramai warga-warga emas ni lah yang duk selalu nampak pi masjid setiap malam. Kalau pi mana-mana pun mesti orang tua lah yang jadi ‘pelanggan tetap’ rumah Allah. Alhamdulillah, mungkin mereka sendiri dah faham betapa dah lewatnya usia mereka menyebabkan mereka nak ‘cover’ balik amalan mereka ketika zaman pesta muda-mudi dulu.

Apa yang aku hairan terhadap golongan warga emas yang tak sedor diri ni. Dah la tua, ada hati lagi nak menyanyi lagu melalaikan, nak naik pentas berjoget berdansa, masih lagi main Facebook menyamar jadi orang muda mengurat anak gadis (yang main Facebook berdakwah, Alhamdulillah). Kadang-kadang tu aku tengok TV kat rumah dengan keluarga, ada la duk tunjuk orang menyanyi (bukan program realiti, kalau program realiti dah lama aku blah la. Menyampah aku tengok anak melayu dok tayang dedah mendedah. Bangga dengan kurnia Allah bagi, tapi guna tak kena tempat, malah mengundang murka Allah.) rancangan apa entah orang tua duk menyanyi, pakai baju melayu songkok sampin semua elok dah, tapi menyanyi atas pentas lagu cintan cintun. (Contoh, lebih kurang macam ni la)”Ku melihat wajah manis Si dia. Hati ku berdebar, haii asyiknya dunia…” Masya-Allah, sedar ke tak pokcik ni diri dah tua, usia yang Allah bagi ‘penalty’ tu guna sebaik-baiknya.

Berbalik kepada nenekku yang sakit itu, aku pun senyum pada wajahnya dan bagi la kata-kata semangat sikit, ” Sabar lah Tok, sakit ni sat ja. Sakit sikit ja. Allah saja nak ampun dosa Tok tu.”

Ya, ingatlah bahawa Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani. Allah Maha Berkuasa di atas segala kehendakNya. Banyak cara yang Dia bagi nak ampun dosa kita. Antaranya inilah, melalui sakit.

 “Sesungguhnya orang yang bersabar akan diberikan pahala mereka tanpa hisab

( 39:10 )

Sayidatina ‘Aisyah pun pernah tanya kat Rasulullah s.a.w. tentang sakit dan apa Baginda cakap,

Tidak menimpa ke atas seorang mukmin satu kecelakaan, biarpun duri, ataupun lebih daripada itu, melainkan Allah akan menggugurkan dengan satu dosa.”

(Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Subhanallah, luasnya rahmatMu! Apa jua penyakit yang membelenggu kita, Allah sengaja ingin menggurkannya bagi kita dosa-dosa yang lampau. Aku bersyurkur Ya Allah, banyak sungguh cara yang Engkau akan ampunkan dosa hamba-hambaMu. Aku ni di usia muda pun dah banyak buat dosa, solat pun kadang-kadang tu lewat, bangun subuh pun kat rumah ni tak menentu. Aduhai si fulan!

Wallahu’alam.

Read Full Post »

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Usai saja menziarahi kakak ipar kepada pakcik aku di Subang, kami merancang untuk pulang ke rumah kami dekat SP (Sg. Petani atau kalau orang KL panggil Sunway Pyramid. Komersial lahh kampungku.) Kami terdiri daripada 4 orang beranak, aku, abang, mak, dan abah menaiki kereta Toyota Avanza kaler putih.

 

Masa kami bertolak dari Subang mungkin time tu dah pukul 1.00 p.m. Jadi, kami pun dah rancang nak jamaq takkhir la. (tak tau la pasaipa tak mau buat jamak taqdim…) Tak apalah, inilah rukhsah yang dikurniakan oleh Allah untuk hamba-hambanya di mana ia menunjukkan betapa kasih dan kisahnya Dia tentang perjalanan para musafirketika dalam perjalanan.

 

Jadi tak apa lah, ketika memandu abangku kelihatan ceria sahaja dok depan jadi drebar (driver). Mak aku ni pantang dok atas kereta ja tangan tu susah la kalau tak nampak mushaf-mushaf juzu’ al-Quran di sisinya . Sejuk hati aku tengok mak. Aku bersyukur dapat mak macam ni dan aku suka melihat mak membaca satu persatu ayat al-Quran yang di alunkannya. Tapi kadang-kadang tu aku terlalai juga. Aku tengok dan dengar saja mak baca. Aku tak baca pun, dengar saja. Kan dengar orang baca pun boleh peroleh pahala.

Sabda Rasulullah s.a.w:

 

“ Barangsiapa mendengar satu ayat dari kitab Allah (al-Quran) maka ia akan menjadi cahaya untuknya pada hari qiamat”
(Riwayat Ahmad)

 

Alhamdulillah, luasnya rahmatMu ya Allah. Dengar orang baca pun boleh saja dapat pahala. Senangnya nak melabur pahala di dunia, senang juga nak mencari dosa di dunia ini. Aduhai si fulan…!!! (aku la tu…)

 

Baiklah, berbalik kepada cerita tadi, semasa dalam perjalanan, perut abangku mula berasa sengal-sengal (alamatnya nak buang air besar la tu…) tak apa lah, kami pun singgah lah di R&R Simpang Pulai iaitu mungkin kira-kira 25 KM lagi nak sampai Ipoh. Kami tak berhenti di R&R, sebaliknya kami pi isi minyak dekat Petronas dan guna tandas awam kat situ. Ok, sementara tunggu minyak habis diisi, aku masuk la kejap dalam kedai Petronas tu, nak cari benda-benda yang edible (boleh dimakan) kehkehkeh…

 

Sambil memilih minuman kesukaan ku, radio channel mana entah yang dipasang, IKIM kut ada orang azan. (Radio-radio arus perdana mana ada azan, contoh: era.fm, hot.fm. cuma ada tazkirah-tazkirah ustaz-ustaz feymes. Kalau tak silap ambo la, akalu silap betulkan ya). Nampaknya sudah masuk waktu asar. Ok, waktu asar dah masuk…!!! (dalam hati la, padahal perbuatan zahir tidak melakukannya.)

 

Dah beli minuman tu, masuk la dalam kereta, mak pun pesan kat abah,

“haaa ni Asaq dah masuk dah kut, boleh la kita singgah sat semayang kat surau petronaih ni…”

abah memotong, “haisshhh, baru pukui 4.30 masuk apanya… tak masuk lagi aiihhh…” Aku tersenyum saja tengok gelagat mereka, namun aku hanya berdiam sahaja. “Ehh, aku terlupa atau aku buat-buat terlupa tadi aku dengar orang azan kat dalam kedai tadi?? Ahh, itu radio siaran Selangor, itu azan selangor, kami sekarang  dekat Perak” Bisik hatiku mencari seribu satu alasan.

 

Abangku dah selesai hajatnya. Kami pun bertolak la dari R&R Simpang Pulai tu nak balik ke Utara. Sepanjang perjalanan pulang aku dah macam tak sedap hati. Aku bertafakkur seketika, “Elokkah kita kalau tangguh-tangguh sekejap solat kita walaupun dalam perjalanan, bukankah kami ni dalam golongan orang yang bermusafir?? Kalau lah aku tak sempat nak solat Asar macam mana?” Usik hatiku sudah mula rasa ada yang tidak kena. Aku sentiasa dalam keadaan was-was. Tak eloklah dalam keadaan was-was ni. Nampak sangat syaitan sedang menguasai kita. Ya Allah, lemahnya hambaMu ini.

 

Sedang berkhayal di awang-awangan, celik-celik dah sampai dalam terowong sebelum nak sampai Kuala Kangsar tu dah. Cepat juga ya masa berlalu. Ingat lagi masa tu hujan lebat sesangat lebat nak habaq mai sampai jalan pun tak nampak. Kira paling laju dan kelajuan paling relevan boleh dipandu maybe dalam 80 km/jam sebab abang aku pandu dalam hujan lebat sekitar kelajuan tu la.

 

Keluar saja kami dari terowong tu, hujan punya la lebat. nasib baik masa tu tak pasang radio kut-kut ada lagu Hujan ka, “Pagi yang gelap, kini sudah terang…”

(anda sambung sambung sendiri ye liriknya.) Kira-kira dalam kilometer yang ke 260. Aku ternampak sebuah kereta terkandas di tengah-tengah jalan. bukan terkandas biasa-biasa. Ini yang luarbiasa punya ni, siap melintang tengah jalan. Masya-Allah, nak buat macam mana ni??

 

Abangku dah mula cuak. Masa tu dia ikhtiar habis-habis dah. Dia dok tengah drive boleh tahan laju juga la. Nak mengelak macam mana ni?? Melintang tengah jalan kut kereta tu. Nak tak nak kena mengelak ke tepi jalan la, pada masa yang sama masa tu hujan lebat. Nak brek kereta punya la kritikal habis lah, stereng tu boleh kata pusing 360 darjah la. Aduhai, Ya Allah, hanya padamu lah aku berharap…!!!

 

GEDEGANGGGGG….!!!!

eksiden sudah.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’unn.

…………..

…………..

…………..

…………..

…………..

…………..

…………..

………………………….

………………….

………..

…..

..

.

 

Fuh3. Hati ku berdebar-debar rasanya.

Panik mula menyelubungi diriku. Astaghfirulllah.

Istighfar banyak-banyak.

~~ 00TAMAT00 ~~

 

Pangajaran yang aku nak bagi dari apa yang aku cerita di atas adalah;

 

1. Kita tak tahu bila ajal kita datang menjemput kita. Tambah-tambah lagi Allah dah bagi petanda dekat kita ( masa aku terdengar orang azan dalam kedai Petronas tadi.), itu pun aku buat-buat tak tahu. Buat alasan pulak. Aduhai, lalai sungguh aku ni.

 

2.  Mula-mula memang aku buat-buat tak tau. Waktu Asar dah masuk pun aku ingat boleh tangguh-tangguh lagi. Tapi bila musibah datang tak kira masa menimpa aku, mula la aku nak ingat dekat Allah. Ya Allah..!!! Aku malu pada Mu ya Allah…!!! Sebagai hambaMu aku tak patut langsung buat macam ni. Astaghfirullah…!!! Aku takut ayat ni kena dengan aku.

 

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya, begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

( 10: 12 )

 

Tapi aku bersyukur aku masih lagi dalam agama yang diredhaiNya yakni Islam. Sebab tu Allah dah pesan dalam quran, nikmat Islam adalah nikmat yang terbaik bagi hamba-hambaNya dan kita takkan dapat menghitung nikmat Allah…!!!

 

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kamu, tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.”

( 16:18 )

Subhanallah…!!!

 

3. Di sini kita boleh bermuhasabah diri kita, di mana kita berada, di mana tahap kita?? Layakkah kita merindukan kematian seperti para syuhada di kala berdepan dengan lebih 1,000 orang sedangkan tentera Islam pada masa tu hanya lah 313 orang sahaja ketika perang Badar??? Ya…!! Mereka merindukan kematian…!!! Sebab mereka Allah dah janji syurga meski pun mereka syahid. Sedangkan aku ni takut mati. Sebab apa?? Jangan tanya aku, tanya lah diri anda sebab apa dan sama ada anda bersedia atau tidak untuk menghadapi mati.

 

Wallahu ‘alam.

 


Read Full Post »